Rabu, 16 Mei 2012

AT-9 Spiral-2 : Rudal Pelibas Tank Milik Penerbad TNI AD


Heli tempur Mi-35
Tanpa pemberitaan yang berlebih, kedatangan armada helikopter tempur Mi-35P dari Rusia yang melengkapi Skadron 31/Serbu Penerbad pada tahun 2010, nyatanya juga membawa angin segar untuk lini rudal anti tank di Tanah Air. Mi-35P yang juga dikenal sebagai APC terbang, karena kemampuannya membawa 8 pasukan bersenjata lengkap, hadir melengkapi Skadron 31 dengan etalase persenjataan yang cukup garang, seperti roket S-8 kaliber 80mm, pelontar chaff/flare, kanon standar GSh-30-2 kaliber 30mm, dan sosok rudal AT-9 Spiral-2.
Seperti halnya identitas penamaan pada rudal AT-5, identitas AT-9 juga merupakan penamaan yang diberikan oleh pihak NATO. Nama asli rudal ini adalah 9M120 Ataka, dibuat oleh KBP Instrument Design Bureau, manufaktur alutista dari Rusia. Meski kodratnya sebagai rudal pelibas tank, tapi ada kekhususan pada AT-9, yakni rudal ini sengaja dirancang untuk platform peluncuran dari udara.
AT-9 terbilang rudal yang belum berusia terlalu tua, Uni Soviet sendiri baru mulai mengoperasikan rudal ini pada tahun 1990-an. Desain AT-9 merupakan pengembangan dari versi sebelumnya, AT-6 Spiral, dengan penyempurnaan pada sisi akurasi, kecepatan, dan jangkauan. Rudal ini menganut sistem pemandu SACLOS (Semi Automatic Command to Line of Sight), dimana operator harus membidik target sampai rudal berhasil mengenai target, jalur kendalinya berupa sinyal radio. Dalam pola pengoperasiannya, pilot dan juru tembak harus sama-sama mengarahkan helikopter ke arah target hingga rudal tepat tiba di sasaran. Ada rumor yang menyebutkan, versi AT-9 ada yang dirancang dengan pemandu laser, menjadikan AT-9 dapat dioperasikan secara fire and forget.
Rudal AT-9 terpasang pada sayap heli Mi-35P Penerbad
Rudal AT-9 milik Penerbad dalam sebuah display
Ada tiga jenis AT-9 yang dioperasikan untuk menghajar spesifik target, pertama anti lapis baja dengan tandem HEAT (High Explosive Anti Tank), yakni AT-9 yang dilengkapi proyektil peledak dengan dua tahap detonasi, tandem HEAT memang dipersiapkan untuk menghancurkan kendaraan berlapis baja, termasuk MBT (main battle tank). Kedua adalah jenis 9M120F, pada jenis ini AT-9 dilengkapi dengan hulu ledak thermobaric, pada thermobaric peledak akan menghasilkan gelombang ledakan dengan durasi yang lebih lama, pola ini juga dikenal dengan sebutan “air fuel bomb” yang ditargetkan untuk memanggang pasukan infantri, sehingga dapat mengakibatkan korban jiwa dalam jumlah besar. Thermobaric mengandalkan oksigen dan udara untuk pengoperasiannya, dan sangat pas untuk menghajar target infantri yang bersembunyi di dalam terowongan, gua, atau bunker.
Jenis ketiga adalah 9A220O, di jenis ini AT-9 dilengkapi dengan hulu ledak expanding rod, sebuah amunisi khusus yang menggunakan pola fragmentasi ledakan annular. Jenis ketiga ini dikhususkan bagi AT-9 untuk melibas target berupa helikopter, untuk akurasinya ada bekal sistem laser pada jenis ini. Tidak ada informasi jenis AT-9 mana yang digunakan oleh Penerbad TNI AD, tapi besar kemungkinan adalah versi utama yakni AT-9 dengan tandeam HEAT. Dari ketiga jenis AT-9 tadi, Rusia juga mengembangkan lagi jenis 9M120M, tidak diketahui pasti fitur yang ditawarkan pada jenis ini, kecuali jangkauan rudal yang didongkrak mencapai 8 Km.
Tampilan utuh rudal AT-9, berikut tabung peluncurnya
Tampilan belakang rudal AT-9, berikut tampilan belakang tabung peluncurnya
Dalam segmen rudal anti tank, jangkauan AT-9 terbilang cukup jauh, yakni bisa mencapai 6 – 8 Km dengan kecepatan luncur 550 meter per detik. Rusia pun nyatanya sangat mengandalkan AT-9 sebagai jawara alutsistanya, terbukti rudal ini tak hanya dirancang untuk diluncurkan dari heli Mi-35/Mi-24 saja, heli tempur kelas berat Mi-28 Havoc pun juga mengandalkan AT-9 untuk menggasak target tank. Bahkan tak itu saja, ada versi Ataka-T yang bisa diluncurkan dan platform kendaraan di darat, dan jenis Ataka lain yang bisa meluncur dari kapal patroli.
Rudal AT-9 dipasang pada heli tempur Mi-28 Havoc, AT-9 menjadi lawan tanding untuk rudal Hellfire dari AS
Salah satu yang menarik dari rudal berbobot 49 Kg ini adalah sifat frekuensi radionya yang memiliki kekebalan pada jamming infrared dan elektronik lawan. Alhasil tak hanya Rusia dan Indonesia yang menggunakan AT-9, sampai saat ini AT-9 diketahui juga telah digunakan oleh Venezuela, Brazil, India, dan Slovenia. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi AT-9
Berat keseluruhan : 49 Kg
Berat hulu ledak : 7,4 Kg
Panjang : 1,83 Meter
Diameter : 13 Cm
Sistem Peluncuran : SACLOS (Semi-Automatic Command to Line of Sight)
Moda Peluncuran : air launcher
Lebar sayap : 36 Cm
Jarak Jangkau : 400 meter sampai 6 Km
Kecepatan : 550 meter per detik

Selasa, 15 Mei 2012

Sejarah KOPASSUS

( Kisah Nyata ) Operasi Rahasia Kopassus Di Perbatasan Malingsia Thn 1965
Ini cerita tentang the first British SAS soldiers killed by a South East Asian soldier (yg tentu saja diwakili oleh prajurit dari RPKAD/Kopassus )

Setting ceritanya adalah bulan April tahun 1965, ketika Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malingsial. Lokasi pertempuran di desa Mapu, Long Bawan, perbatasan Kalimantan Barat dan Sabah.

Saat itu batalion 2 RPKAD (sekarang Grup 2 Kopassus) baru saja terbentuk. batalion baru ini segera dikirim untuk misi khusus ke kalimantan barat. Mereka mendarat di Pontianak bulan Februari 1965, dan segera setelah itu mereka berjalan kaki menuju posnya di Balai Karangan yang jaraknya puluhan kilometer dari lapangan terbang.

Pos Balai Karangan merupakan pos terdepan TNI yang sebelum kedatangan RPKAD dijaga oleh infanteri dari batalion asal Jatim. Sekitar 1 km di depan pos Balai Karangan adalah pos terdepan tentara Inggris di desa Mapu yang dijaga oleh satu kompi British paratrooper dan beberapa orang SAS. Menyerang pos inilah yang menjadi misi khusus batalion RPKAD. Pos Mapu tersebut sering digunakan sebagai transit bagi personel SAS yang akan menyusup ke wilayah Indonesia. TNI ingin hal ini dihentikan dengan langsung melenyapkan pos tersebut.

Pos Inggris di Mapu tersebut terletak di puncak sebuah bukit kecil yang dikelilingi lembah, sehingga pos ini sangat mudah diamati dari jarak jauh. Selain itu, pos tersebut juga cukup jauh dari pasukan induknya yang kira-kira terpisah sejauh 32 km.

Pasukan RPKAD yang baru datang segera mempersiapkan setiap detail untuk melakukan penyerangan. Prajurit RPKAD yang terpilih kemudian ditugaskan untuk melakukan misi reconnaisance untuk memastikan kondisi medan secara lebih jelas. Mereka juga memetakan pos tersebut dengan detail sehingga bisa menjadi panduan bagi penyusunan strategi penyerangan, termasuk detail jalur keluar masuknya.

Tugas recon ini sangat berbahaya, mengingat SAS juga secara rutin melakukan pengamatan ke posisi-posisi TNI. Jika kedua recon tersebut berpapasan tanpa sengaja, bisa jadi akan terjadi kotak tembak yang akan membuyarkan rencana penyerangan. Oleh karena itu, recon RPKAD sangat berhati-hati dalam menjalankan misinya. Bahkan mereka menggunakan seragam milik prajurit zeni TNI AD untuk mengelabui musuh apabila terjadi kemungkinan mereka tertangkap atau tertembak dalam misi recon tersebut.

Setelah sebulan mempersiapkan penyerangan, pada 25 April 1965 gladi bersih dilakukan. Dari tiga kompi RPKAD yang ada di pos Balai Karangan. Komandan batalion, Mayor Sri Tamigen, akhirnya memutuskan hanya kompi B (Ben Hur) yang akan melakukan penyerangan. Sementara 2 kompi lainnya tetap berada di wilayah Indonesia untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu.

Dalam penyerangan ini, kompi B diharuskan membawa persenjataan lengkap. Mulai dari senapan serbu AK-47, senapan mesin Bren, peluncur roket buatan Yugoslavia, dan Bangalore torpedoes, mainan terbaru RPKAD waktu itu, yang biasanya digunakan untuk menyingkirkan kawat berduri atau ranjau.

Selesai mengatur perbekalan, Ben Hur mulai bergerak melintasi perbatasan selepas Maghrib. Karena sangat berhati-hati, mereka baru sampai di desa Mapu pada pukul 0200 dini hari. Setelah itu mereka segera mengatur posisi seperti strategi yang telah disusun dan dilatih sebelumnya.

Pos Mapu berbentuk lingkaran yang dibagi ke dalam empat bagian yang masing-masing terdapat sarang senapan mesin. Perimeter luar dilindungi oleh kawat berduri, punji, dan ranjau claymore. Satu-satunya cara untuk merebut pos ini adalah dengan merangsek masuk kedalam perimeter tersebut dan bertarung jarak dekat. Menghujani pos ini dengan peluru dari luar perimeter tidak akan menghasilkan apa-apa karena didalam pos tersedia lubang-ubang perlindungan yang sangat kuat.

Beruntung, malam itu hujan turun dengan deras seolah alam merestui penyerangan tersebut, karena bunyi hujan menyamarkan langkah kaki dan gerakan puluhan prajurit komando RPKAD yang mengatur posisi di sekitar pos tersebut.

Setelah dibagi ke dalam tiga kelompok, prajurit komando RPKAD berpencar ke tiga arah yang telah ditetapkan. Peleton pertama akan menjadi pembuka serangan sekaligus penarik perhatian. Kedua peleton lainnya akan bergerak dari samping/rusuk dan akan menjebol perimeter dengan bagalore torpedoes agar para prajurit RPKAD bisa masuk ke dalam dan melakukan close combat.

Pada jam 04.30 saat yang dinanti-nanti tiba, peleton tengah membuka serangan dengan menembakkan senapan mesin Bren ke posisi pertahanan musuh. Segera setelah itu, dua peleton lainnya meledakkan bangalore torpedoes mereka dan terbukalah perimeter di kedua rusuk pertahanan pos tersebut. Puluhan prajurit RPKAD dengan gagah berani masuk menerjang ke dalam pos untuk mencari musuh.

Prajurit Inggris berada pada posisi yang tidak menguntungkan karena tidak siap dan sangat terkejut karena mereka tidak menduga akan diserang pada jarak dekat. Apalagi saat itu sebagian rekan mereka sedang keluar dari pos untuk berpatroli. Yang tersisa adalah 34 prajurit Inggris. Hal ini memang telah dipelajari recon RPKAD, bahwa ada hari-hari tertentu dimana 2/3 kekuatan di pos tersebut keluar untuk melakukan patroli atau misi lainnya. Dan hari itulah yang dipilih untuk hari penyerangan.

Dengan susah payah, akhirnya ke-34 orang tersebut berhasil menyusun pertahanan. Beberapa prajurit RPKAD yang sudah masuk ke pos harus melakukan pertempuran jarak dekat yang menegangkan. Dua prajurit RPKAD terkena tembakan dan gugur. Namun rekan mereka terus merangsek masuk dan berhasil menewaskan beberapa tentara Inggris dan melukai sebagian besar lainnya. Tentara Inggris yang tersisa hanya bisa bertahan sampai peluru terakhir mereka habis karena mereka telah terkepung.

Diantara yang terbunuh dalam pertempuran jarak dekat yang brutal tersebut adalah seorang anggota SAS. Ini adalah korban SAS pertama yang tewas ditangan tentara dari ASEAN. Namun sayangnya Inggris membantah hal ini. Bahkan dalam buku karangan Peter Harclerode berjudul "Para! Fifty Years of the Parachute Regiment halaman 261 pemerintah Inggris malah mengklaim mereka berhasil menewaskan 300 prajurit RPKAD dalam pertempuran brutal tersebut. Lucunya klaim pemerintah Inggris ini kemudian dibantah sendiri oleh penulis buku tersebut di halaman 265, ia menyebutkan bahwa casualties RPKAD hanya 2 orang. Secara logis memang angka 300 tidak mungkin karena pasukan yang menyerang hanya satu kompi. Pemerintah Inggris melakukan hal tersebut untuk menutupi rasa malu mereka karena dipecundangi tentara dari dunia ketiga, bahkan salah satu prajurit dari kesatuan terbaik mereka ikut terbunuh dalam pertempuran tersebut.

Pertempuran itu sendiri berakhir saat matahari mulai meninggi. Prajurit RPKAD yang sudah menguasai sepenuhnya pos Mapu segera menyingkir karena mereka mengetahui pasukan Inggris yang berpatroli sudah kembali beserta bala bantuan Inggris yang diturunkan dari helikopter. Mereka tidak sempat mengambil tawanan karena dikhawatirkan akan menghambat gerak laju mereka.

Sekembali di pos Balai Karangan, kompi Ben Hur disambut dengan suka cita oleh rekan-rekannya. Para prajurit yang terlibat dalam pertempuran mendapatkan promosi kenaikan pangkat luar biasa. Mereka juga diberi hadiah pemotongan masa tugas dan diberi kehormatan berbaris di depan Presiden Soekarno pada upacara peringatan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1965.

Itulah cerita heroik batalion 2 RPKAD, cikal bakal Grup 2 Kopassus.

Ini Kopassus Tempoe Doeloe (RPKAD)